Bisnis Teknologi

Kalau saya pikir-pikir sekarang, lucu juga awal mula saya terjun ke bisnis teknologi. Bukan dari kampus teknik, bukan dari hackathon, apalagi gara-gara kenal investor. Semuanya justru dimulai dari rasa frustasi pribadi.

Waktu itu saya bantu teman jualan online, dan https://budsisback.com/bisnis-teknologi-dari-nol-pengalaman-gagal-dan-tumbuh/beneran rempong banget ngatur stok barang sama chat dari pembeli. Belum lagi invoice yang bolak-balik salah. Saya mikir, “Masa sih di zaman serba digital gini, belum ada solusi simpel buat masalah segini umum?”

Dari situ saya mulai kepikiran buat bikin sesuatu. Bukan karena saya jago IT, tapi karena saya tahu persis masalahnya.

Dan dari sinilah kisah bisnis teknologi saya dimulai—dari kamar kos kecil yang penuh sticky notes dan kopi instan, sampai akhirnya dilirik investor lokal dan punya 1000+ user aktif bulanan.


Bisnis Teknologi Awalnya Cuma Iseng, Lama-lama Jadi Cinta

Bisnis Teknologi

Merangkai Ide dari Masalah Sehari-hari

Saya selalu percaya: Bisnis Teknologi yang kuat lahir dari masalah nyata, bukan ide keren-kerenan. Masalah yang saya lihat waktu itu adalah UMKM yang gaptek tapi butuh digitalisasi.

Maka saya bayangkan: gimana kalau ada aplikasi pencatatan keuangan dan stok yang bisa dipakai semudah main WhatsApp?

Gak perlu grafik ribet, gak perlu login macam-macam. Cukup buka, klik, dan selesai.

Saya gak tahu gimana bikin aplikasi, tapi saya mulai dari hal yang saya bisa—gambarin fitur impian saya di kertas. Dari situ saya cari-cari developer di forum Facebook, Discord, LinkedIn. Sampai akhirnya ketemu satu anak teknik semester akhir yang bilang, “Gue tertarik bantu, bang. Sekalian belajar.”

Itu titik awal kami membangun prototype.

Bikin Produk Pertama – Banyak Salah Tapi Tetap Jalan

Bisnis Teknologi Bikin MVP (Minimum Viable Product) itu kayak bikin anak ayam dari batu. Bingung, nabrak sana sini. Tapi kita tetap coba. Versi pertama aplikasi kami beneran sederhana banget, bisa dibilang setengah jadi. Tapi, kami langsung tes ke beberapa kenalan yang punya usaha kecil.

Feedback mereka? Campur aduk.

  • “Bagus, tapi tampilannya kaku.”

  • “Error terus pas saya input barang.”

  • “Saya bingung cara masukinnya.”

Sakit sih dengarnya, tapi justru dari situlah kami belajar. Kami catat semua kritik, mulai ubah tampilan, simplifikasi proses. Bahkan kami sempat ketawa bareng waktu satu ibu-ibu bilang, “Saya kira ini kalkulator pintar.”

Yang penting waktu itu bukan bikin aplikasi sempurna, tapi dengerin user dan terus iterasi.

Gagal Dulu Baru Ngegas

Bisnis Teknologi

Setelah 3 bulan, aplikasi kami mulai punya 100 user. Tapi pertumbuhan stuck. Kami pasang iklan, coba endorse mikro-influencer, tapi hasilnya gak seberapa.

Lalu masalah makin besar: salah satu developer cabut karena dapat kerja tetap. Tim tinggal dua orang.

Waktu itu saya hampir menyerah. Capek, gak ada duit, dan saya sempat mikir, “Mungkin emang bukan jalannya.”

Tapi entah kenapa, saya kepikiran obrolan lama sama satu user: “Aplikasi ini bantu banget, bang. Saya gak perlu minta tolong anak saya lagi buat hitung untung rugi.”

Kalimat itu yang nyetrum saya. Saya gak bisa berhenti. Ada orang yang beneran terbantu.

Jadi saya bangun lagi. Ngerjain UI sendiri pakai template. Baca tutorial coding buat ngerti flow. Saya ajak temen SMA buat bantu promosi. Pokoknya asal jalan.

Akhirnya Dilirik Investor (Setelah Gagal Pitching 7 Kali)

Pitching ke investor itu kayak audisi X-Factor—gak cuma butuh ide, tapi juga cara presentasi yang “kena.” Saya sempat 7 kali pitching dan gagal. Ada yang bilang ide saya gak scalable, ada yang minta data growth padahal baru MVP.

Akhirnya saya ubah strategi. Saya bikin presentasi yang gak teknis, tapi bercerita. Tentang ibu warung yang sekarang bisa atur stok lewat HP. Tentang tukang bakso yang bisa tahu bahan mana yang cepat habis.

Dan satu investor akhirnya tertarik. Dia bukan dari dunia startup, tapi dia ngerti “rasa” problem yang saya pecahkan.

Saya dapet pendanaan awal Rp200 juta. Bukan angka yang wah, tapi cukup buat hire satu developer, sewa server lebih proper, dan naikin kualitas UX.

Belajar Pahit-Manis Jadi Founder Teknologi

Bisnis Teknologi

Saya pikir Bisnis Teknologi setelah dapet dana, semuanya bakal lancar. Ternyata tidak.

Kami sempat kelimpungan karena traffic naik, tapi server down. UX baru malah bikin user bingung karena terlalu modern. Banyak yang minta balik ke versi lama. Developer burnout karena deadline terus-menerus. Saya sendiri mulai kelelahan mental.

Tapi semua itu bikin saya belajar:

  • Scale pelan-pelan itu gak masalah.

  • Dengerin user itu penting banget.

  • Tanya ke tim: kamu oke gak? Itu juga bagian dari leadership.

Saya belajar adaptasi. Gak semua saran harus diikuti. Kadang kita harus tau kapan bilang “enggak.”

Monetisasi dan Pelajaran tentang Uang

Model Bisnis Teknologi kami awalnya berantakan. Gratis semua, karena takut user kabur. Tapi itu gak sustainable.

Saya pelajari beberapa model: freemium, subscription, pay-per-use. Akhirnya kami pilih sistem gratis untuk fitur dasar, tapi fitur laporan dan ekspor data hanya untuk member premium.

Respons user? Awalnya banyak yang protes. Tapi lama-lama terbiasa, karena mereka mulai lihat nilai dari fitur tersebut.

Dari situ, pendapatan pertama masuk. Kecil sih, cuma Rp1 juta di bulan pertama. Tapi itu bukti bahwa… user mau bayar kalau mereka ngerasa terbantu.

Sekarang, Kami Masih Belajar dan Bertumbuh

Saat artikel ini ditulis (hipotetis), aplikasi kami sudah dipakai 3000+ user, dengan retention rate 68%. Kami punya 1 orang CS, 1 UI designer freelance, dan masih tim kecil banget.

Tapi yang bikin bangga bukan angkanya. Tapi setiap kali saya lihat satu notifikasi feedback masuk: “Bang, fitur print nota-nya ngebantu banget. Gak perlu nulis tangan lagi.”

Itu validasi terbaik.

Bisnis teknologi bukan tentang unicorn. Tapi tentang bikin solusi yang nyata buat orang-orang sekitar kita, dikutip dari laman resmi Doku.

Tips Praktis Buat Kamu yang Mau Bangun Bisnis Teknologi

  1. Mulai dari masalah, bukan solusi.

  2. Temukan co-founder yang saling isi, bukan yang mirip.

  3. Bikin versi pertama secepat mungkin. Uji langsung ke user.

  4. Feedback itu emas. Dengerin, bukan cuma dikumpulin.

  5. Growth itu bukan viral. Tapi bertahan dan bertambah.

  6. Konsisten lebih penting dari skill jenius.

  7. Monetisasi itu harus dari awal dirancang, bukan ditunda.

  8. Bangun relasi, bukan cuma produk.

Bisnis Teknologi Itu Nyata, Tapi Gak Harus Glamor

Saya nulis ini bukan buat pamer pencapaian. Tapi karena saya tahu betapa banyak orang di luar sana yang punya ide besar tapi takut mulai. Takut karena gak bisa coding. Takut karena gak punya modal Bisnis Teknologi.

Percaya deh, saya juga mulai dari nol. Tapi saya mulai. Itu saja.

Kalau kamu punya ide yang bisa bantu orang, jangan simpan sendiri. Eksekusi. Uji. Gagal. Coba lagi. Karena dunia gak butuh ide keren, tapi solusi nyata.

Punya pertanyaan atau mau diskusi soal bangun bisnis teknologi? Drop di komentar! Atau DM saya di [media sosial hipotetis]. Yuk saling bantu tumbuh ✊

Kalau kamu punya keyword lain untuk artikel panjang seperti ini, langsung aja kirim. Saya bakal bantu tulis dengan gaya real, bukan basa-basi.

Baca Juga Artikel dari: Impor Beras India: Ketika Krisis Pangan Kita ke Luar Negeri

Baca Juga Konten Artikel yang Terkait Tentang: Technology

By Santanu